Oleh: vimey | 5 Juli 2009

Bingkisan Istimewa untuk Saudariku agar Bersegera Meninggalkan Musik dan Lagu

Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Tak sengaja ketika membaca-baca bab artikel di situs myquran.org, ku menemukan suatu bacaan yang tak sedikit turut menyindir diri ini. Tak jarang tingkah seperti yang tersuratkan di dalamnya masih sering ku lakukan dalam kehidupan. Apalagi di layar televisi saat ini, dari pagi hari, siang, bahkan saat di tengah adzan maghrib berkumandang, acara-acara musik semakin semarak saja. Tak luput juga dari peran serta para grup band yang semakin banyak bermunculan tak terhingga jumlahnya. Berkaca dari suatu hadist yang mengatakan bahwa

Setiap dari kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggung jawabannya atas apa yang dipimpinnya”( Bukhori ;893)

dari hadist tersebut jelas dikatakan bahwa yang menjadi pemimpin diri kita adalah diri kita sendiri. Dan setiap apa yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawabannya dia hadapan Allah SWT kelak. Yah, semoga saja dengan adanya artikel ini dapat menjadi penuntun yang dapat membimbing kita dalam meringankan serta menunjukkan kita pada kebenaran. semoga hal ini juga turut menjadi cambukan bagi diriku sendiri untuk lebih memperbaiki diri. Aamiiin…

Penyusun: Ummu Rumman
Muraja’ah: Ustadz Abu Salman

Suatu ketika seorang akhowat tengah duduk bersama beberapa temannya mengerjakan tugas kuliah. Tak jauh dari mereka, duduk pula seorang teman. Sepertinya ia sedang menunggu kedatangan seseorang. Sang akhowat terheran-heran melihat temannya. Telah satu jam lebih ia duduk tanpa melakukan apapun kecuali ia tampak berkonsentrasi penuh menghafalkan sesuatu yang tertulis dalam kertas yang dipegangnya. Ketika rasa ingin tahunya tak terbendung lagi akhowat tersebut pun bertanya, apakah gerangan yang ia hafalkan? apakah yang tertulis dalam kertas tersebut? Betapa kagetnya ketika ia dapati isi kertas tersebut adalah syair lagu-lagu (musik). Astagfirullah… wal ‘iyyadzubillahi min dzalik.

Ya ukhty, betapa melekatnya musik di kehidupan umat muslim saat ini. Di mana pun, kapan pun, bahkan saat kondisi apapun musik tidak terlepas dari mereka. Ada pendapat yang mengatakan bahwa sesungguhnya musik membantu proses belajar. Orang yang belajar dengan diiringi musik, maka ilmu itu akan lebih mudah terpatri di dalam dirinya. Sebagian lagi menganjurkan kepada wanita yang sedang hamil untuk secara rutin memperdengarkan musik klasik pada usia kehamilan tertentu untuk membantu perkembangan pertumbuhan otak sang jabang bayi. Dan pendapat yang tak kalah jahil adalah perkataan yang menyebutkan bahwa orang-orang yang tidak menyukai musik adalah orang yang kasar hatinya. Subhanallah… Maha suci Allah dari segala apa yang mereka tuduhkan…


Hukum Musik dan Lagu

Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6) Sebagian besar mufassir (Ulama Ahli Tafsir -ed) berkomentar, yang dimaksud dengan “perkataan yang tidak berguna” dalam ayat tersebut adalah nyanyian. Hasan Al Basri berkata, “Ayat itu turun dalam masalah musik dan lagu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan musik.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud). Maksudnya adalah akan datang pada suatu masa di mana beberapa golongan dari umat Islam mempercayai bahwa zina, memakai sutera asli, minum minuman keras dan musik hukumnya halal, padahal semua itu adalah haram. Imam Syafi’i dalam kitab Al Qodho’ berkata, “Nyanyian adalah kesia-siaan yang dibenci, bahkan menyerupai perkara batil. Barangsiapa memperbanyak nyanyian maka dia adalah orang yang dungu, kesaksiannya tidak dapat diterima.”

Ya ukhty, telah jelas haramnya musik dan nyanyian. Maka janganlah engkau menjadi ragu hanya karena banyaknya orang yang menganggap bahwa musik itu halal. “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am: 116)

Adapun orang-orang yang menyatakan tentang halalnya musik maupun mengatakan tentang berbagai manfaat musik, maka cukuplah kita katakana kepada mereka, apakah engkau mengaku lebih mengetahui kebenaran dan kebaikan daripada Allah dan Rasul-Nya ?

Bingkisan Istimewa untuk Saudariku agar Bersegera Meninggalkan Musik dan Lagu

Ya ukhty, salah satu tanda syukurmu atas nikmat yang diberikan oleh Allah adalah engkau menggunakan nikmat-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Serta engkau tidak menggunakan nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya. Ingatlah bahwa tidak ada sesuatu pun nikmat pada dirimu melainkan nikmat itu berasal dari Allah. Maka janganlah engkau gunakan nikmat-nikmat Allah itu untuk sesuatu hal yang tiada berguna terlebih lagi dengan perkara yang telah jelas keharamannya.

Ukhty, engkau telah mengetahui bahwa biasanya kesudahan hidup seseorang itu pertanda dari apa yang dilakukannya selama di dunia, lahir dan batin. Dan diantara tanda seseorang itu husnul khotimah atau su’ul khotimah adalah ucapan yang sering ia ucapkan di akhir hayatnya. Karena itu, demi Allah! Janganlah engkau menganggap remeh masalah musik ini. Engkau mungkin mengatakan, “Ah, aku hanya mendengarnya sekali dua kali saja. aku mendengarnya hanya untuk mengisi waktu senggang atau ketika bosan. Kupikir itu tidak akan berpengaruh pada diriku.” Tahukah engkau ukhty, sesungguhnya pelaku maksiat itu terbiasa karena ia mengizinkan satu dua kali tindakan maksiat. Meskipun hanya sekali dua kali, itu tetaplah maksiat dan bisa mendatangkan murka Allah.

Sekali engkau mendengar atau menyanyikannya, maka sebuah noktah telah kau torehkan pada hatimu. Dan karena telah sekali engkau terlena, engkau pun cenderung melakukannya lagi sehingga makin sulit engkau berlepas diri dari musik dan nyanyian. Dan ketika musik telah menjadi kebiasaan, sungguh dikhawatirkan ia akan menjadi kebiasaan hingga akhir hidup. Betapa sering telinga ini mendengar kisah tentang orang-orang yang mengakhiri hidupnya dengan lantunan musik dan lagu. Mereka tidak bisa mengucapkan syahadat Laailaha illallaah, meski dengan terbata-bata. Justru lantunan musik yang terdengar dari lisan mereka – Na’udzubillahi min dzalik. Meski mungkin mereka pun menginginkan untuk mengucapkan kalimat syahadat, tetapi tenyata lisan mereka terasa ‘berat’ dan telah terlanjur terbiasa dengan musik.

Ukhty, kita memohon pada Allah kesudahan hidup yang baik. Meninggal sebagai muwahid dan syahadat Laailaha illallaah sebagai penutup hidup kita. Aamiin…

Iklan

Responses

  1. ” (QS. Luqman: 6)

    kasihan kamu nak…
    belajar agama, sama guru yang bener ya….

  2. no komen ah, takut salah 🙂

    but nice post

  3. Bsmllh. ciee mb, nuansa salaf. . klw gtu ane akuurrr & setuju^^ mmng musik i2 bs mmbwt org trlena bhkn lupa diri^^

  4. pertanyaan pertama untuk diri sendiri:

    benarkah menurut hatimu,
    lagu dan musik itu haram?
    apakah atas dasar tafsir seseorang?

    kedua:

    benarkah menurut QS:lukman:6 itu dimaksudkan
    lagu dan musik?

    itu aja dulu, jawab aja pake hati dan qalbumu..
    oke, selamat menyusuri khazanah islam…

    iya, afwan…
    postingan ana itu, memang tidak sepenuhnya benar.
    insyaAllah jika ada kesempatan dalam waktu dekat, ana mau memberikan hal yang insyaAllah akan membenarkan postingan ana ini.
    jazakallah atas kritikannya… 🙂

  5. Assalamu’alaikum

    saudara ku adi isa, menurut saya artikel diatas memang kurang hujjah nya, tapi itu juga tidak sepenuhnya salah, karena ada beberapa ulama yang memang berpendapat seperti itu, juga ada ulama yang membolehkan namun dengan syarat2 tertentu..

    Kalaupun anda ingin bertanya tentang hukum, ya jawabnya harus pake akal, nalar tentu berdasarkan Qur’an dan hadist.. bukan dengan bertanya pada hati. karena emang enggak nyambung. Dan orang yang telah melakukan ijma soal hukum musik bukanlah orang sembarangan , beliau adalah ulama yang tinggi ilmunya. dan kita wajib menghargainya. Selevel Imam Mazhab yakni imam syafi’i saja tidak mencela bahkan membid’ah kan muridnya yang sekaligus menjadi imam mazhab yakni imam hambali. Lah kita ini siap toh ko dengan angkuhnya memvonis ulama yag telah ijtihad.

    tegurlah dengan hujjah anda, kalaupun berbeda jangan lantas menganggap itu adalah yang paling benar.

    Wallahu A’lam bishawab, wassalamu’alaikum Wr. Wb

    Wa’alaikumsalam wr wb
    jazakallah khoir atas bantuan penjelasan dari antum.
    semoga itu semua bisa menjawab pertanyaan dari saudara isa.

  6. visit my blog
    http://jerzz.wordpress.com/

  7. […] MP3 Player, Musik Haramkah? Postingan kali ini sebagai perbaikan dari postingan Bingkisan Istimewa untuk Saudariku agar Bersegera Meninggalkan Musik dan Lagu yang banyak sedikitnya terdapat kontroversi. Semoga dengan hadirnya postingan ini lebih bisa […]

  8. suck

  9. setuju dg adi isa, QS luqman bkn untuk memaknai lagu…

    para ulama substansinya manusia yg tak luput dr salah, pertanyaannya adl benarkah ulama itu membuat pernyataan ini?pertanyaan selanjutnya, kalopun benar maka metode apa yg di pakainya?

    sungguh umat islam akan tetap dalam kejumudan akut saat realitas di maknai salah apalagi phobia terhadap peradaban yg maju.

    musik misalnya, knp haram?pdhl musik di sisi lain bisa menjadi media untuk mendakwahkan islam. islam kultural pake musik spt sunan kalijaga pake gamelan dan lagu2 jawa buat mengenalkan islam.islam strktural politik juga bisa pake musik saat berkampanye.

    semoga tidak asal percaya atas tiap informasi yg di dapat, objektif pahami kebenaran & metode penarikan kesimpulannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: